Pada tahun 411 SM, Aristophanes menulis sebuah komedi berjudul Lysistrata. Komedi ini kemudian menjadi sangat terkenal di seluruh belahan dunia, bukan karena kelucuannya, tapi karena kandungan satyr yang mengusung topik anti perang. Aristophanes hidup di jaman ketika Yunani sedang bergolak karena perang saudara dan komedi menjadi cara yang ia pilih untuk mengkritik keputusan politik para pemimpin Yunani kala itu untuk berperang. Cara untuk mengkritisi masalah sosial seperti yang dilakukan oleh Aristophanes ini kemudian menjadi cara yang baku bagi Old Comedy dalam tradisi teater Barat. Komedi, yang menampilkan sisi buruk kemanusiaan, bukan cuma sekedar lucu dan menghibur, tapi menjadi pengusung topik aktual tertentu dan sarat dengan identitas dan permasalahan lokal. Komedi juga harus berusaha untuk ikut memperbaiki kehidupan, sebagaimana yang disarikan oleh Aristoteles dalam Poetics. Ketika tragedi bekerja dengan menyentuh perasaan, komedi berkenaan dengan pikiran dan membutuhkan kecerdasan.
Bagi penonton Indonesia saat ini, penyampaian masalah lewat pementasan komedi boleh dibilang lebih digemari daripada penyampaian dengan cara yang lebih ‘berat’. Penonton bisa tertawa terbahak-bahak tanpa menyadari bahwa sebenarnya mereka sedang bercermin dan mentertawakan diri sendiri. Bagi penonton yang gemar berpikir, tentu saja, pesan yang disampaikan oleh pentas komedi dapat dijadikan bahan perenungan ketika layar telah ditutup. Barangkali inilah yang menjelaskan kenapa panggung komedi relatif lebih ramai dibanding panggung tragedi. Sayangnya, pentas komedi yang menyajikan kecerdasan dan tidak menjadi dagelan boleh dibilang langka di panggung teater kita.
Dalam produksi kali ini, Teater Sastra UI akan mementaskan sebuah komedi karya terbaru I. Yudhi Soenarto berjudul Baju Baru Sang Raja. Komedi ini mengeksplorasi imajinasi tentang kondisi sosial-politik sebuah masyarakat di masa depan yang penuh carut marut. Dengan latar sebuah kerajaan imajiner yang merupakan wilayah pecahan Indonesia, komedi ini berkisah tentang sebuah masyarakat yang tidak lagi percaya pada demokrasi, tapi tetap tak bisa lepas dari jeratan korupsi, kolusi, konspirasi, manipulasi kekuasaan dan pencitraan palsu. Kemunafikan, kebodohan dan keserakahan telah begitu merajalela, sementara kejujuran menjadi sangat mahal dan dianggap sebagai kejahatan.