<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title></title>
	<atom:link href="http://teatersastraui.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://teatersastraui.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 30 Apr 2012 12:14:17 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>Ada Apa Dengan Otong</title>
		<link>http://teatersastraui.com/2012/04/30/ada-apa-dengan-otong/</link>
		<comments>http://teatersastraui.com/2012/04/30/ada-apa-dengan-otong/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 12:12:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teater Sastra UI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teatersastraui.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='video_frame'><iframe src='http://www.youtube.com/embed/http://www.youtube.com/watch?v=5fb2It4zqbQ&amp;list=UUzKppLFunZHFFx2TpTZpYyg&amp;index=1&amp;feature=plcp' width='630' height='380' frameborder='0'></iframe></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teatersastraui.com/2012/04/30/ada-apa-dengan-otong/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Sayang, Aku HIV. Kamu Ngapain Aja&#8221; &#8212; Suami-Istri Saling Tuduh</title>
		<link>http://teatersastraui.com/2012/04/30/sayang-aku-hiv-kamu-ngapain-aja-suami-istri-saling-tuduh/</link>
		<comments>http://teatersastraui.com/2012/04/30/sayang-aku-hiv-kamu-ngapain-aja-suami-istri-saling-tuduh/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 11:55:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teater Sastra UI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pementasan Terdahulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teatersastraui.com/?p=229</guid>
		<description><![CDATA[Apa jadinya jika seorang suami mengetahui istrinya positif hamil sekaligus HIV? Kira-kira pergulatan seperti itulah yang ingin ditampilkan oleh sutradara I Yudhi Soenarto dalam drama yang berjudul, Sayang, Aku HIV. Kamu Ngapain Aja? Pertunjukan drama yang dibawakan oleh Teater Sastra Universitas Indonesia itu dipentaskan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta 30 Mei hingga 1 Juni 2008.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Suara Pembaruan&#8211; Abimanyu</strong></em></p>
<p><a href="http://teatersastraui.com/wp-content/uploads/2012/04/Sayang-Aku-HIV-1.jpg"><img class="alignnone  wp-image-230" title="Sayang Aku HIV 1" src="http://teatersastraui.com/wp-content/uploads/2012/04/Sayang-Aku-HIV-1.jpg" alt="" width="614" height="410" /></a></p>
<p>Apa jadinya jika seorang suami mengetahui istrinya positif hamil sekaligus HIV? Kira-kira pergulatan seperti itulah yang ingin ditampilkan oleh sutradara I Yudhi Soenarto dalam drama yang berjudul, <em>Sayang, Aku HIV. Kamu Ngapain Aja</em>? Pertunjukan drama yang dibawakan oleh Teater Sastra Universitas Indonesia itu dipentaskan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Jakarta 30 Mei hingga 1 Juni 2008.</p>
<p><em>Sayang, Aku HIV. Kamu Ngapain Aja</em>? Adalah sebuah refleksi kehidupan pasangan suami-istri dengan latar belakang yang berbeda-beda dalam menghadapi sebuah persoalan. Kisah ini berisi gugatan seorang istri kepada suaminya, ketika ia menemukan dirinya positif hamil, sekaligus positif HIV. Jika sang istri bersikeras tidak pernah selingkuh, maka dari mana lagi virus itu bisa berada dalam tubuhnya kalau bukan dari suaminya sendiri.</p>
<p>Pergulatan perdebatan saling tuduh inilah yang diangkat dengan menarik oleh Yudhi. Ia membahas pergulatan ini dengan tiga cara dan latar belakang yang berbeda. Panggung dipecah jadi tiga bagian, yang masing-masing bertatanan ruang tamu. Masing-masing ruang tamu itu diisi oleh pasangan dengan latar belakangan berbeda, seperti pasangan yang suaminya militer, pasangan yang suaminya pemuka agama, dan pasangan tanpa nikah yang laki-lakinya pemain musik.</p>
<p>Kisah pasangan-pasangan itu memiliki alur yang hampir sama dan berjalan paralel. Pada bagian awal, dikisahkan perempuan-perempuan itu adalah perempuan yang setia pada suaminya meski mereka sering ditinggal pergi. Kedatangan suami atau laki-laki pasangan hidup mereka adalah waktu yang ditunggu-tunggu. Apalagi kini mereka memiliki sebuah kabar sekaligus pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh suami mereka.</p>
<p><strong>Masalah HIV</strong></p>
<p>Kisah dengan latar belakang HIV sebenarnya sudah banyak diangkat dalam berbagai gaya. Yudhi pun mengakui bahwa kisah ini sudah muncul idenya sejak sepuluh tahun lalu. &#8220;Dulu HIV memang hanya ada di luar negeri, tapi sekarang Indonesia memiliki angka tertular yang signifikan. Banyak pihak telah melakukan berbagai cara untuk menanggulangi masalah HIV, tapi jarang yang menggunakan teater. Mungkin penggiat teater kita masih lebih tertarik dengan tema-tema yang &#8220;lebih besar,&#8221; sebutnya.</p>
<p>Dengan drama yang ditampilkan ini Yudhi mencoba mengangkat persoalan yang mungkin terjadi pada penderita HIV. Tiga pasangan rumah tangga yang berbeda-beda itu ditampilkan untuk mengutarakan bahwa penyakit HIV tidak mengenal profesi, tentara atau seorang pemuka agama pun sangat mungkin tertular HIV.</p>
<p>Latar belakang profesi yang berbeda-beda ini pun digunakan Yudhi untuk mengemas cerita lebih menarik, seperti penyelesaian konflik ala militer, ala rohaniwan, dan ala pergaulan bebas. Hanya saja bagian akhir yang ditampilkan serasa kurang menggigit.</p>
<p>Aktor yang bermain pun terasa tidak memaksimalkan karakter yang diembannya. Dalam hal ini Yudhi menyebutkan bahwa ia tidak memulai kerja produksinya dengan sebuah naskah, tapi dengan cerita, tokoh, latar dan konflik.</p>
<p>Lebih jauh Yudhi yang juga dosen di Institut Kesenian Jakarta ini menyebutkan bahwa ia mencoba pendekatan terbalik dari Stanislavski yang mengharuskan aktor untuk dituntun sedemikian rupa agar aktingnya cocok dengan karakter yang dimainkannya. Namun sepertinya pendekatan membalik gaya Stanislavski ini perlu kepiawaian aktor yang sudah memiliki jam terbang bagus. Hal lain yang terasa kurang menghidupkan panggung adalah tata panggung dan tata cahayanya. Membagi panggung jadi tiga bagian ini membuat alur terkotak-kotak dan terasa kaku. Tata cahaya pun kadang kala tidak sesuai pengadeganan. &#8220;Kami bukan aktivis LSM, kami hanya sedikit mengeksplorasi seni peran dan menampilkan sebuah cerita sederhana tentang HIV, dengan segala keterbatasan,&#8221; sebut Yudhi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teatersastraui.com/2012/04/30/sayang-aku-hiv-kamu-ngapain-aja-suami-istri-saling-tuduh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Macbeth, Tragedi &#8220;Indah&#8221; dari Shakespeare</title>
		<link>http://teatersastraui.com/2012/04/30/macbeth-tragedi-indah-dari-shakespeare/</link>
		<comments>http://teatersastraui.com/2012/04/30/macbeth-tragedi-indah-dari-shakespeare/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Mar 2012 11:23:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teater Sastra UI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Blog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teatersastraui.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Pada dasarnya, kita sangat suka terhadap tragedi. Dalam waktu singkat, cerita tragedi dari sebuah ruang pengadilan di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, menjadi buah bibir meski hanya dipicu oleh tiga butir buah kakao. Itulah panggung teater sesungguhnya yang sulit ditandingi pementasan semacam lakon Tragedi Macbeth, 20-22 November 2009, oleh Teater Sastra Universitas Indonesia di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Kompas</strong></em></p>
<p>Minggu, 22 November 2009 | 02:51 WIB</p>
<p><strong>Putu Fajar Arcana</strong></p>
<p>Pada dasarnya, kita sangat suka terhadap tragedi. Dalam waktu singkat, cerita tragedi dari sebuah ruang pengadilan di Purwokerto, Banyumas, Jawa Tengah, menjadi buah bibir meski hanya dipicu oleh tiga butir buah kakao. Itulah panggung teater sesungguhnya yang sulit ditandingi pementasan semacam lakon Tragedi Macbeth, 20-22 November 2009, oleh Teater Sastra Universitas Indonesia di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta.</p>
<p>Jika tidak sangat cermat dan penuh dengan daya jelajah artistik yang mumpuni, panggung teater akan jatuh pada duplikasi yang mubazir. Ia hanya akan memindahkan realitas sehari-hari dengan daya pancar yang lebih lemah ketimbang apa yang sudah lebih dahulu dilakukan oleh media massa. Usaha sutradara I Yudhi Soenarto, master teater dari State University of New York, Amerika Serikat, mengontekskan tragedi dalam drama karya William Shakespeare satu sisi pantas diapresiasi. Namun, ia memiliki tantangan besar yang harus ditaklukkan sebelum memutuskan memilih naskah ini untuk merayakan puncak 25 Tahun Teater Sastra UI.</p>
<p>Tantangan paling nyata, bagaimana menjadikan panggung teater sebagai arena yang pantas ditonton publik karena berbagai pertimbangan setelah melihat realitas sehari-hari jauh lebih tragis ketimbang panggung teater itu sendiri. Perkara cicak vs buaya, yang melibatkan institusi penegak hukum, seperti kepolisian, kejaksaan, dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), sudah berbulan-bulan ”mencuri” perhatian publik. Di situ kesenian (teater) harus benar-benar bisa menunjukkan dirinya sebagai ruang-renung dan muara katarsis, yang tidak berhenti pada konteks hiburan semata-mata.</p>
<p>Kutipan dialog tokoh Macbeth (I Yudhi Soenarto) yang dijadikan semacam kontekstualisasi lakon yang ditulis tahun 1603, yang berbunyi, ”Kejahatan harus disiram kejahatan lain agar bertambah tenaganya”, menunjukkan keinginan kuat Yudhi membaca tragedi zaman. Sesuatu yang sudah seharusnya dilakukan seorang tokoh intelektual seperti Yudhi. Itulah sebenarnya upaya pemaknaan ”baru” terhadap lakon Macbeth yang barangkali telah ratusan kali dimainkan sejak tahun 1970-an oleh kelompok-kelompok teater berbeda di seluruh Indonesia.</p>
<p><a href="http://teatersastraui.com/wp-content/uploads/2012/04/mpphoto_200911-21-62684p.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-202" title="Kompas - Tragedi Macbeth" src="http://teatersastraui.com/wp-content/uploads/2012/04/mpphoto_200911-21-62684p.jpg" alt="" width="600" height="400" /></a></p>
<p><strong>Adaptasi</strong></p>
<p>Upaya adaptasi paling mengesankan pernah dilakukan oleh Yayasan Arti Bali dengan memainkan lakon Macbeth dalam bentuk gambuh. Gambuh adalah seni pertunjukan klasik, yang menjadi asal-muasal sebagian besar seni pertunjukan tradisi yang kini berkembang di Bali. Gambuh Macbeth dipentaskan tahun 1999 dan disutradarai Kadek Suardana adalah contoh baik bagaimana teater bekerja keras melampaui realitas sosial, politik, dan kultural yang terjadi saat itu.</p>
<p>Sebagai bentuk kesenian yang menjadi ”ibu” dari semua kesenian yang ada sekarang di Bali, gambuh sudah nyaris punah. Yayasan Arti kemudian melakukan rekonstruksi dan ”menjinakkan” lakon produk Barat ke dalam bingkai Timur sebagaimana pula pernah terjadi pada kisah Romeo and Juliet atau Sampek Eng Tay.</p>
<p>Apa yang dilakukan Teater Sastra UI dalam tiga hari ini belum terlihat maksimal. Penggunaan multimedia untuk memberi sentuhan pada latar cerita sebenarnya usaha yang menarik. Sayangnya, penggunaan bahasa visual itu sama sekali tidak menunjukkan eksplorasi yang mendukung perjalanan alur cerita. Ia bahkan nyaris tak jauh berbeda dengan penggunaan layar gulung pada teater-teater tradisi kita. Bedanya, jika dulu layar bergambar hutan atau kerajaan digulung untuk memperlihatkan perpindahan latar cerita, tim panggung Teater Sastra UI hanya menggantinya dengan komputer.</p>
<p>Lakon Macbeth diakui banyak aktor dan sutradara sebagai naskah yang berat. Di dalamnya banyak dialog yang berpanjang-panjang, penuh dengan renungan hidup yang ditulis Shakespeare secara metaforis. Lantaran mengikuti secara tertib hampir seluruh adegan, pementasan Teater Sastra UI sampai memakan waktu lebih dari 3,5 jam. Apabila dalam durasi pentas yang panjang, sementara kita tetap memilih mengumbar dialog-dialog filosofis secara verbal, bisa jadi itu pekerjaan yang tidak terlalu menguntungkan. Tidak saja lantaran sekarang hidup kita didominasi oleh kultur visual, tetapi sekali lagi, tantangan panggung teater kini ”melawan” kekejaman realitas itu sendiri.</p>
<p>Dan itulah tragedi sesungguhnya yang harus kita lewati sebelum benar-benar memutuskan kembali ke panggung teater. Hanya dengan begitu, panggung teater tidak ”mati” kesepian sebagaimana yang terjadi pada Jumat (20/11) malam itu&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teatersastraui.com/2012/04/30/macbeth-tragedi-indah-dari-shakespeare/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sketsa Robot 2.0: Sketsa Kapitalisasi Pendidikan</title>
		<link>http://teatersastraui.com/2012/04/30/sketsa-robot-2-0-sketsa-kapitalisasi-pendidikan/</link>
		<comments>http://teatersastraui.com/2012/04/30/sketsa-robot-2-0-sketsa-kapitalisasi-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 11:43:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teater Sastra UI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pementasan Terdahulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teatersastraui.com/?p=225</guid>
		<description><![CDATA[Kapitalisasi pendidikan dipentaskan dalam wujud satir yang menggemaskan. Sebuah lontaran imajinasi tentang masa depan, dimana robot dan manusia hidup bersama dan memperoleh pendidikan yang setara di tengah masyarakat.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://teatersastraui.com/wp-content/uploads/2012/04/Sketsa-Robot-8.jpg"><img class="size-full wp-image-217 alignleft" title="Sketsa Robot 8" src="http://teatersastraui.com/wp-content/uploads/2012/04/Sketsa-Robot-8.jpg" alt="" width="640" height="359" /></a>Kapitalisasi pendidikan dipentaskan dalam wujud satir yang menggemaskan. Sebuah lontaran imajinasi tentang masa depan, dimana robot dan manusia hidup bersama dan memperoleh pendidikan yang setara di tengah masyarakat</p>
<p>Robot-robot itu pada akhirnya harus kuliah. Robot-robot berujud manusia (humanoid) itu harus bersaing masuk Universitas Robot Indonesia (URI) bersama dengan manusia-manusia normal lainnya. Tak ada tes masuk di URI. Yang ada, hanya paket-paket masuk kuliah yang didalamnya berisi daftar harga dan fasilitas yang akan didapat sesuai dengan paket yang dipilih.</p>
<p>Sindiran-sindiran tentang dunia pendidikan yang seperti lingkaran setan ini, dibidik Teater Sastra UI dalam lakon Sketsa Robot ver2.0 yang digelar di Gedung Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki, pekan lalu.</p>
<p>Dalam tradisi teater barat, gaya satir dalam teater untuk mengangkat persoalan besar, memang kerap ditampilkan. Umumnya mereka mementaskan lakon-lakon ini dengan gaya kocak yang mampu memancing tawa sekaligus menyelipkan pesan moral yang kental. Lihat saja catatan drama komedi The Tempest karya Shakespeare (1611) yang mengangkat persoalan kolonialisme. Lalu Pygmalion karya GB Shaw (1913) yang mengangat tentang kepalsuan masyarakat kelas atas Inggris dan beberapa seniman teater lain yang juga melakukan hal serupa.</p>
<p>Teater-teater Indonesia, juga kerap menyelipkan komedi dalam tema-tema pertunjukkannya. Dalam balutan komedi satir, sebuah persoalan besar bisa diangkat hingga ringan dinikmati. salah satunya Lakon Sketsa Robot ver2.0 karya sutradara I Yudhi Soenarto ini.</p>
<p>Pentas teater sastra UI produksi ke-322 ini, mencoba mengangkat tentang karut marut dunia pendidikan saat ini. Di dalamnya juga terselip tema-tema pertentangan antara ilmu pengetahuan dan moral, cinta, relasi gender, seksualitas, budaya korupsi dan pengabaian nilai kemanusiaan. Inilah pertunjukkan yang memuat banyak persoalan dalam satu panggung pertunjukkan.</p>
<p>Banyaknya persoalan yang diangkat memang menjadi daya tarik tersendiri. Penonton dijejali oleh banyaknya persoalan yang ada di lingkungan pendidikan. Banyaknya persoalan pula lah, yang kemudian menjadikan pertunjukkan ini menjadi kaya akan pesan, namun juga menjadikan durasi pertunjukkan menjadi teramat panjang. Banyaknya tema-tema yang diangkat, juga membuat penonton acap dibingungkan dengan persoalan yang bertubi-tubi. Tema-tema itu acapkali justru terdegradasi dengan sendirinya.</p>
<p>Pertunjukkan Sketsa Robot ver 2.0 sendiri bermula dari persoalan rumah tangga biasa. Persoalan dimana suami istri diributkan oleh hadirnya sosok robot perempuan bernama Kartini, yang karena kebiasaan dari sang suami dalam urusan seks, membuat robot yang semula manis, menjadi “liar”.</p>
<p>Sang suami me-upgrade robot bocah itu menjadi robot yang suka dengan aktifitas seks. Tentu, istrinya, Dewi Sartika menjadi marah. Robot Kartini yang ia sayangi, tiba-tiba menjadi “pemuas nafsu” suaminya. Dari saran distributor robot yang kemudian bernama robot Lolita itu, Dewi Sartika disarankan untuk mengkuliahkan Lolita di sebuah Universitas Robot Indonesia.</p>
<p>Persoalan belum rampung, penonton dihadapkan pada persoalan lain. Kapitalisasi Pendidikan. Sama seperti di Universitas-universitas lain, URI pun mengkapitalisasi pendidikan untuk menggaet calon mahasiswa-mahasiswa dari kalangan humanoid maupun manusia. Siapa yang memiliki anggaran lebih besar, dialah yang akan diterima. Yang pada akhirnya, kuliah hanya akan menjadi milik orang-orang kaya yang berduit. Bukankah memang kenyataan seperti itu yang terjadi saat ini?</p>
<p>Lontaran-lontaran segar dari birokrat kampus juga menjadi daya tarik tersendiri dalam pertunjukan ini. Tak hanya soal kapitasisasi kampus saja, persoalan lain juga melompat ke hal-hal lainnya. Seks, nepotisme, korupsi di lingkungan kampus menjadikan pertunjukkan ini kaya akan asupan pesan yang kental.</p>
<p>Set panggung Sketsa Robot Ver 2.0 yang menempatkan layar raksasa di belakang panggung, yang difungsikan untuk memberikan keterangan-keterangan terhadap nama-nama robot, fungsi proyektor slide dalam kelas saat humanoid kuliah, menjadikan penonton lebih leluasa untuk menikmati pertunjukkan ini. Meski dalam pergantian set, cenderung masih tergopoh-gopoh dan lama.</p>
<p>Dari sisi musikalitas, musik-musik techno yang diusung juga membuat nuansa masa depan yang kental. Namun, pemberian unsur musik yang digeber saat terjadi dialog yang teramat penting, menjadikan pentas Sketsa Robot malah tergelincir layaknya menonton sinetron. (sofian dwi)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teatersastraui.com/2012/04/30/sketsa-robot-2-0-sketsa-kapitalisasi-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>COMING SOON: Lenong Kampus &#8212; Mei 2012</title>
		<link>http://teatersastraui.com/2012/04/30/coming-soon-lenong-kampus-mei-2012/</link>
		<comments>http://teatersastraui.com/2012/04/30/coming-soon-lenong-kampus-mei-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 10:39:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teater Sastra UI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pementasan Berikutnya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teatersastraui.com/?p=192</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teatersastraui.com/2012/04/30/coming-soon-lenong-kampus-mei-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pementasan Lenong Kampus &#8220;Balada Tukang Gali&#8221; &#8212; 22 Maret 2012</title>
		<link>http://teatersastraui.com/2012/04/30/pementasan-lenong-kampus-balada-tukang-gali-22-maret-2012/</link>
		<comments>http://teatersastraui.com/2012/04/30/pementasan-lenong-kampus-balada-tukang-gali-22-maret-2012/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 30 Apr 2012 10:34:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teater Sastra UI</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pementasan Terdahulu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://teatersastraui.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://teatersastraui.com/2012/04/30/pementasan-lenong-kampus-balada-tukang-gali-22-maret-2012/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

